August 2004 Archives

Perjalanan

| | Comments (23)
journey-2004.jpg

“Let your mind start a journey thru a strange new world. Leave all thoughts of the world you knew before. Let your soul take you where you long to be… Close your eyes let your spirit start to soar, and you’ll live as you’ve never lived before.”

— Erich Fromm

So here it is. Mulai besok sampai minggu depan, gue bakal off dari depan komputer, meja, dan kantor ini. (seperti yang Nita ceritain)

Ga akan ada email, mailing list, blog dan Yahoo msgr yang bakal ngikut. Ga ada perjalanan di jalan di kota ini, ga ada AC yang terlalu dingin ini.

Mudah-mudahan (dan harusnya) perjalanan ini bakal bagus buat gue dan buat Nita juga.

Akhir-akhir ini gue rada-rada bingung, rada-rada ga jelas dan keilangan arah. Mungkin cuma karena hidup ditengah kerutinan aja kali ya.

Jadi mudah-mudahan napak tilasnya Mas Priyo ini akan ngasih perubahan suasana, melakukan hal yang beda, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kita datangin mudah-mudahan semuanya ngasih pengaruh yang bagus.

Ngasih waktu dan ngasih tempat buat mencari keseimbangan lagi dengan segala sesuatunya.

Generasi Jempol

| | Comments (54)
Generasi Jempol
Saat kamu membaca pertama kali jangan jadi terbayang ada sejuta mahluk segede jempol ngegerombol dalam satu kumpulan, lari kesana kemari sambil berseru ramai antar satu sama lain hiritikpirik bilikistik kuribik kurikiiq liniskipiriq bilikistik kurikiiq…

Bukan.

Generasi Jempol hanya sekedar istilah yang bisa kita gunakan untuk menamai generasi jaman sekarang.

Kalo kamu orang marketing atau mereka yang mau bikin film, bikin buku, bikin iklan dan butuh ngasih nama ke generasi baru jaman sekarang yang punya ciri khas dengan kekiniannya, gue tawarkan sebuah nama: GENERASI JEMPOL.

Singkirkan generasi-generasi lain, generasi biang, generasi mtv, generasi X, generasi Y, generasi Z, generasi ABC. Minggir. Generasi Jempol kini hadir.

Kenapa? Dibawah ini alasannya.

Pertama, karena JEMPOL sekarang mengalami apa yang disebut oleh Dr. Edward Tenner (seorang ahli sejarah sains dari Smithsonian Institution pengarang buku “Our Own Devices: The Past and Future of Body Technology”, Knopf, 2003) the second renaissance atau kebangkitan kedua dari JEMPOL.

Didorong oleh kehadiran dan diterimanya text messaging pada telepon selular sebagai alat komunikasi utama maka peran JEMPOL yang dimulai sejak 250 tahun yang lalu karena hadirnya keyboard musik (dan lalu berkurang dengan kedatangan “space bar” di mesin ketik) kini kembali menjadi vital dalam hubungan antar individual.

Setelah meledak di Eropa dan Asia, kini generasi jempol juga mulai merambah Amerika Serikat dengan kekuatan penuh. Di kuarter pertama tahun 2004, 2.6 Milyar text messages terkirim di Amerika Serikat saja.

Kamu bisa lihat jempol beraksi di mal-mal, di sekolah, di jalanan. Generasi jempol sibuk menari diatas keypad henpon dengan kecepatan supersonik. Kelincahan jempol ini seolah-olah mengejek pendapat yang mengatakan bahwa sebuah keyboard haruslah mengakomodir seluruh jari. Tidak perlu kata generasi jempol. JEMPOL saja cukup!

Seorang teman menghabiskan Rp 600 ribu rupiah sebulan hanya untuk beradu jempol dengan pacarnya yang tinggal di Indonesia. Dan luar biasanya, ceweknya ini akhirnya juga diputuskan karena teman kita ini merasa bahwa ceweknya tidak cukup cepat membalas SMS-nya dia. Atau dalam kata lain, ceweknya kalah adu jempol (hehe).

Pada bulan Juni, cewek Singapura berumur 23 tahun (seumur lebih muda dari gue), Kimberly Yeo memenangkan kontes mengetik di henpon yg disponsori oleh SingTel dalam rangka memecahkan Guinness Book of World Records yang mulai dicatat pertama kali pada tahun 2001.

Kimberly berhasil menuliskan (DENGAN JEMPOL!) “The razor-toothed piranhas of the genera Serrasalmus and Pygocentrus are the most ferocious freshwater fish in the world. In reality they seldom attack a human” dalam waktu 43.66 detik saja!

Menghancurkan record sebelumnya yang mencatat 67 detik pada September 2003. (Gue juga nyoba selesai dalam 18.64 menit ho ho ho)

Kalo Kimberly lahir pada jamannya ahli silat berkeliaran maka gue yakin dia sudah mendapat gelar “Pendekar Jempol Tanpa Bayangan”

Banyak orang bahkan mengaku bisa melakukan komunikasi jempol ini tanpa melihat (!!). Jempol tetap menari sambil mata lurus kedepan saat menyupir atau bahkan saat berbicara dengan orang lain disaat meeting, jempol tetap aktif bergerilya dibawah meja atau di dalam saku. Memberi makna baru dalam istilah komunikasi real time.

Jempol tanpa bisa dibantah adalah organ pilihan untuk berkomunikasi di abad ke 21 ini.

Sebab kedua, adalah karena simbolisasi dari JEMPOL untuk orang Indonesia yg membuat JEMPOL cocok menjadi sebuah nama generasi yang positif.

Kalo kamu naik kelas dengan angka bagus, kamu mendapat JEMPOL. Kalo kamu membantu ibu beli telor ke pasar, kamu mendapat JEMPOL. Kalo tadi malam kamu tidak ngompol, kamu mendapat JEMPOL. (Tidak melibatkan mutilasi).

Kalo kamu terus-terusan mendapat jempol maka kamu akan menjadi seorang anak yang JEMPOLAN! (di badannya tumbuh banyak jempol hiiii).

Untuk memberi selamat kita memberi tanda jempol (walau menurut Robert Landon, jagoannya Dan Brown di “Angels & Demons”, bukunya sebelum “Da Vinci Code”, tanda jempol adalah simbol phallus kejantanan pria hehe). Jika hebat banget, maka DUA JEMPOL!

THUMBS UP and Two Thumbs Up!

Waktu Caesar memutuskan seorang gladiator supaya dibunuh saja dalam pertarungan hidup mati maka ia akan memberi tanda thumbs down. Bunuh.

Jika ada bau-bau aneh kita cium maka kita sering menyalahkan siapa? Lagi-lagi JEMPOL. Bau jempol jadi penyebabnya. (Padahal gue yakin jempol tidak berbau)

Kalo kita merasa puas, kita juga sering berkata “POL!” (atau “POLDAN!” jika kamu seorang militer) yang walaupun katanya diturunkan dari kata “FULL!” tapi gue curiga berasal dari kata “JEMPOL!”

Karena sebab-sebab diataslah GENERASI JEMPOL bisa kita jelaskan sebagai generasi komunikatif yang dinamik dan juga positif serta selalu mengejar kesuksesan. Generasi Jempol dengan logo dan simbol JEMPOL.

Begitu pentingnya JEMPOL maka di Jepang dikenal dengan apa yang disebut sebagai Oyayubi Sedai atau “the thumb generation” yang mana terjemahannya adalah persis: GENERASI JEMPOL.

Generasi Jempol ini kemudian menggunakan JEMPOL untuk tugas-tugas lain seperti untuk memencet bel rumah atau untuk menunjuk (orang Sunda juga begitu, yg mana karenanya dicurigai orang jaman Sunda kuno sudah mengenal SMS) yang membuat bingung kita menamai jari telunjuk. Karena kalo kita menggunakan JEMPOl untuk menunjuk, maka jari telunjuk harus kita beri nama apa? Jari formerly known as telunjuk gitu? (hehe).

Untuk sebagian orang, bahkan JEMPOL kita sudah digunakan untuk MENGUPIL (tidaaak!)

Di masa depan, kita akan melihat makin banyak dan makin banyak orang yg bergantung pada JEMPOL. Generasi Jempol akan menguasai dunia, dan saat mereka berkuasa, semua benda dan fungsi kemanusiaan akan menggunakan JEMPOL.

Perdagangan, ekonomi, pemerintahan (jempol = jemari politik), komunikasi akan dilakukan oleh JEMPOL. Percintaan dan reproduksi juga oleh JEMPOL (boleh dicoba hohoho).

Orang yang mirip jempol akan dianggap ganteng. Kita akan berevolusi makin mirip jempol. Semua organ tubuh lain akan hilang tinggal yang perlu-perlu saja. Generasi jempol akan berbentuk JEMPOL!

Umat manusia akan menjadi kumpulan mahluk segede jempol ngegerombol dalam satu kumpulan jutaan, lari kesana kemari sambil berseru ramai antar satu sama lain hiritikpirik bilikistik kuribik kurikiiq liniskipiriq bilikistik kurikiiq…*

Demi Bangsa

| | Comments (19)

Proklamasi IndonesiaKami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan
Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l, di-
selenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang se-
singkat-singkatnja.

 
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta.

 
Buat bangsa yang punya sejarah dan cerita yang panjang. Yang punya karunia begitu banyak. Yang punya kita semua. Yang masih akan ada menanti masa.

Menyelesaikan SesuatuMenyelesaikan sesuatu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Tanpa kita sadari dalam kehidupan, segala sesuatunya kurang lebih adalah “menyelesaikan sesuatu”.

Sesuatu ini bisa jadi penting atau tidak, hal yang besar atau tidak, butuh durasi lama (bertahun-tahun) atau tidak (10 menit), tapi pada dasarnya dari pagi kita bangun hingga malam kita tidur segala sesuatunya adalah dalam rangkaian suatu bentuk “menyelesaikan sesuatu”.

Dari perbendaharaan katanya, menyelesaikan sesuatu terdiri dari dasar kata “sesuatu” dan “selesai”.

Sesuatu ini berdasarkan dari kata “satu”, sedang “sesuatu” adalah.. ya sesuatu (hehe) atau yang dalam bahasa Inggris disebut “a thing” atau kalo banyak “things” atau “stuff”.

Dalam konteks “menyelesaikan sesuatu” ini maka “sesuatu” bisa berarti apa saja, dari sebuah masalah, sebuah pekerjaan (baik rutin atau spesial), sebuah pembicaraan, sebuah sistem yang mengatur dan lain-lain.

Jika kita “mandi” maka menyelesaikan mandi berarti “selesai mandi”, jika kita ngeblog maka menyelesaikan ngeblog berarti “selesai posting di blog”.

Maka “sesuatu” bisa berarti apa saja, yang pasti, kapanpun dan dimanapun, kita selalu berada dalam suatu proses menyelesaikan sesuatu.

Sedang “selesai” disisi lain berarti habis atau finish. “Sudah selesai” berarti tidak ada lagi yang tersisa, jika kita katakan “selesai” maka “sebuah pekerjaan” atau “sesuatu” itu sudah beres atau sudah “selesai”. (huhuy rieut hehe)

Di saat kita tidur malam nanti, maka kita telah menyelesaikan sebuah hari. Hari ini sudah selesai, dimana didalamnya banyak terdapat “sesuatu”.

Menyelesaikan “sesuatu” karenanya adalah bentuk sangat dasar dari apa yang kita lakukan setiap hari.

MENGAPA kita ingin “menyelesaikan sesuatu”?

Jawabannya adalah karena menyelesaikan sesuatu memberi kita perasaan produktif, bahwa kita tidak membuang-buang waktu, bahwa hari ini ada hasilnya dan (entah kenapa) memberi kita rasa PUAS (wekkdoorrr siah) yang kita butuhkan.

Jadi jawaban singkatnya karena “menyelesaikan sesuatu” memberi kita kepuasan.

Dibawah ini adalah panduan dalam “menyelesaikan sesuatu” tersebut.

PANDUAN MENYELESAIKAN SESUATU

  1. Tetapkan “sesuatu” yang dimaksud. Tanpa kamu tau apa yang akan kamu selesaikan niscaya ia tidak akan selesai.
  2. Pastikan kamu tahu bagaimana “menyelesaikannya”. Jika “sesuatu” yang kamu maksud itu adalah menulis artikel (misalnya) maka pastikan kamu tau BAGAIMANA caranya menulis sebuah artikel, karena jika kamu tidak tau cara menyelesaikannya maka niscaya ia juga tidak akan selesai.
  3. Jika kamu tidak tahu bagaimana menyelesaikannya, maka CARI TAHU. Tanya teman, tanya guru, tanya orang di jalan, baca buku, googling pokoknya kamu cari tau bagaimana caranya agar sesuatu itu bisa selesai. Tanpa kamu mencari tau, maka kamu tidak dapat menyelesaikan dan niscaya ia tidak akan selesai dan kamu akan gagal dalam tugas menyelesaikan sesuatu itu.
  4. Tahap TERPENTING: Selesaikan. Walo kamu tahu sesuatu yang dimaksud, dan kamu tahu cara menyelesaikannya, tapi tanpa kamu beneran (“actually” bahasa Indonesianya apa sih?) menyelesaikannya maka niscaya ia tidak akan selesai.

Panduan yang LEBIH PENTING dari panduan diatas:

Bagaimana caranya TIDAK “menyelesaikan sesuatu”, tapi tetap merasa PUAS?

  • Buatlah to do list yang isinya segala “sesuatu” yang harus kamu “selesaikan”. Makin panjang to do list yang kamu bikin, kamu akan merasa lebih puas. Walau kamu tidak menyelesaikan apa-apa, tapi minimal kamu menyelesaikan membuat to do list.
  • Kerjakan hal lain yang lebih gampang atau lebih kamu sukai terdahulu, sehingga “sesuatu” yang harusnya kamu selesaikan mungkin tidak selesai, tapi kamu malah menyelesaikan hal-hal lain tadi, yg lebih gampang atau lebih kamu sukai. (Inilah gunanya blog).
  • Dan terakhir serta paling mantep adalah: Mendeklarasikan bahwa kamu menolak sistem penindasan yang namanya “menyelesaikan sesuatu” tersebut dan nyatakan bahwa mulai sekarang kamu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Dengan cara ini kamu mungkin tidak akan hidup lama, tapi minimal kamu bakal punya pengikut, mereka yang juga memiliki keinginan terpendam untuk berhenti “menyelesaikan sesuatu” belum lagi ada kemungkinan dicap pahlawan oleh mereka yang masih takut dan masih rajin “menyelesaikan segala sesuatu”.

Begitulah sedikit panduan buat kita-kita dalam “menyelesaikan sesuatu” yang gue buat dalam rangka mengerjakan hal lain (sesuai panduan diatas) dimana harusnya gue “menyelesaikan sesuatu” tapi gue malah buat “Panduan Menyelesaikan Sesuatu”.

Semoga baca posting ini membuat kamu merasa PUAS, karena minimal kamu telah “menyelesaikan sesuatu” yaitu, ya baca posting ini. (hehe).

UPDATE 10/08/2004:
Ah inilah sisi luarbiasanya blog, posting bukanlah produk akhir, tapi juga bisa di tambah dan dikurangi, terutama kalo dapet tambahan ide dari para komentator :)

Ide-ide menarik diantaranya:

Om Avianto: “Darimana kita tahu sudah selesai atau belum?” bener juga, ini harus masuk dalam panduan, untuk memulai “menyelesaikan sesuatu” kita harus punya indikator selesai sehingga kita tahu kapan “sesuatu” itu “selesai”.

Irwien Satria: “Sesuatu tidak perlu diselesaikan jika tidak perlu (atau bahkan kalo perlu), tapi bisa juga dinikmati ho ho ho keren :)

Fanny: “Hidup adalah rangkaian ‘selesai’ dan ‘mulai’ yang berkesinambungan” plok plok plok kerreeeen :).

Enda Nasution's Facebook profile
TEDIndiaFellows 2009

Twitter Visitors


About this Archive

This page is an archive of entries from August 2004 listed from newest to oldest.

July 2004 is the previous archive.

September 2004 is the next archive.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

Barack Obama Logo

Join My Community at MyBloglog!

View blog authority

Powered by Movable Type 4.01




Pesta Blogger 2010

I'm attending Pesta Blogger 2010


Global Voices 2010



KoinKeadilan.com Prita



Pesta Blogger 2009



Blog Action Day 2009



Justice for Prita!



100 Days Obama



Support Wikipedia

Wikipedia Affiliate Button