July 2004 Archives
Growing old - it’s not nice, but it’s interesting
—August Strindberg.
Selama bertahun-tahun kamu ada bersama saya, saya ga pernah tahu dan ga pernah nyadar kamu ada dan kamu banyak.
Ada sekitar 10,000 trilyun banyaknya kamu bersama saya. Masing-masing kamu punya tugas khusus yang membuat saya ada.
Masing-masing kamu rela melakukan apa saja buat saya.
Membuat saya bisa merasakan rasa senang dan bahagia seperti saat saya bangun tadi pagi disambut kue bertatahkan lilin menyala dengan ucapan selamat ulang tahun serta satu-satunya senyuman yang ingin saya lihat pertama kali. Membuat mata saya bisa melotot melihat kado berpita diatas meja, satu set coffeemaker dan coffee grinder untuk menggantikan coffeemaker saya yg dulu rusak (makasih ya hon!:) ).
Masing-masing kamu memungkinkan saya berdiri, meregang, dan meloncat. Ketika saya makan (seperti saat makan kue ultah tadi pagi hehe), kamu mengambil nutrisari (dan lemak!) dari makanan tersebut, membagi-bagikan energi dan juga membuang ampasnya. Kamu juga ingat untuk membuat saya merasa lapar lagi (hehe) supaya saya tidak tiba-tiba pingsan di jalan. :)
Kamu-kamu membuat rambut (dan jenggot!) saya tumbuh, mata saya berair dan otak saya mendengung. Kamu mengatur setiap sudut keberadaan saya. Kamu meloncat setiap kali saya terancam dan milyaran diri kamu tidak ragu untuk mati untuk saya setiap hari.
Dan tidak pernah, tidak pernah dalam puluhan tahun ini saya mengucapkan terima kasih bahkan hanya untuk satu dari kamu.
Maka kali di hari ini, biarkan saya mengucapkan terima kasih, tidak hanya untuk satu dari kamu, tapi untuk seluruh kamu yang berjumlah 10,000 trilyun itu yang ada bersama saya.
10,000 trilyun kamu yang ada bersama istri yang paling keren sedunia, 10,000 trilyun kamu yang ada bersama keluarga saya, 10,000 trilyun kamu yang ada bersama orang-orang terdekat saya dan 10,000 trilyun kamu yang ada bersama teman-teman saya semuanya.
Terima kasih untuk Kamu yang hanya ada 1 dan untuk kamu yang ada 10,000 trilyun jumlahnya.
Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Terima kasih 10,000 trilyun kali. :)
Sekalian met ultah buat papanya xinda, wong iseng as bison as wibi dan the one and only Goenawan Mohamad :)
A true gentleman is one who is never unintentionally rude. —Wilde, Oscar
Kebanyakan kita udah pernah denger kali ya kata gentlemen seringnya mungkin dalam pertandingan tinju (Laddiiiesss and gentlemeeennnnnn, tonight we are proooudddd to presseeenttt too youuuu.. hehe), tapi baru sekarang lagi gue nyadar bahwa ternyata para gentlemen ini ga sedikit sumbangsih-nya dalam dunia ilmu pengetahuan, terutama di bidang fisika, geologi dan kimia, sekitar abad 17, 18, 19 sampai 20.
Seperti juga di kebudayaan Yunani (bukaaan, bukan orang jawa ini) yang maju ilmu pengetahuannya karena tenaga budak tersedia banyak sehingga orang berada tidak perlu kerja dan punya banyak waktu buat memikirkan filsafat serta hal lainnya, begitu juga yang terjadi di Eropa, khususnya di Inggris abad segituan diatas.
Pada abad itulah, para saintis di bidang fisika, geologi dan kemudian kimia lahir pertama kali bukan sebagai profesi tapi sebagai HOBI para gentlemen itu.
Sebagai bahan obrolan diantara brendi dan cerutu setelah makan malam.
Begitu besar perhatian mereka dan waktu yang para gentlemen itu miliki pada saat itu sehingga bidang-bidang diatas bisa berkembang pesat. Lahirlah Royal Society, Geological Society, Chemical Society dan perkumpulan gentlemen lainnya di berbagai bidang yang melahirkan para raksasa di bidang sains seperti Isaac Newton, Henry Cavendish, James Hutton, Charles Darwin, Richard Owen, Mendeleyev, Max Planx hingga masuk ke abad 20.
Lalu apa sebenernya definisi gentlemen itu sendiri?
Ada beberapa arti yang relevan disini, dari dictionary.com yaitu:
- A man of gentle or noble birth or superior social position.
- A well-mannered and considerate man with high standards of proper behavior.
- A man of independent means who does not need to have a wage-paying job.
Ketiga definisi diatas, somehow berkaitan satu sama lain. Seorang noble birth atau bangsawan biasanya kaya (wealthy) sehingga dia tidak perlu lagi bekerja untuk hidup (no 3).
Seorang darah biru juga biasanya di-expect untuk memiliki well-manner dan high standards of proper behavior walau tidak selalu. Sebaliknya, seorang yang well-mannered juga tidak harus selalu noble maupun berasal dari kelas mereka yang tidak bekerja (idle class), karenanya para gentlemen, seiring dengan berjalannya waktu tidak selalu identik dengan bangsawan tapi juga bisa berasal dari kalangan orang biasa (common people) dan kelas pekerja (working class) selama dia memiliki tingkah laku dan tutur kata yang baik (no 2).
(Ah dipikir-pikir alangkah bergunanya ternyata para royal blood, para gentlemen dan bangsawan saat itu ya. Kalo kamu kaya, dan tidak perlu kerja untuk hidup, maka waktu yang mereka punya serta resource lainnya (otak dan uang) mereka gunakan untuk mengejar hobi yang berguna juga untuk orang banyak.)
Masuk ke abad 20, gue rasa, sejalan dengan banyak revolusi sosialis yang berontak terhadap pengkelas-kelasan masyarakat, ide ttg bangsawan dan gentlemen mulai memudar. Para gentlemen dan perilakunya kemungkinan besar diejek-ejek sebagai perilaku yang pretentious dan penuh kepura-puraan (think of karakter Jack Dawson-nya DiCaprio dengan karakter Cal Hockley-nya Billy Zane di Titanic)
Bagaimana dengan di Indonesia? Tentu kita juga punya yang namanya darah biru cuma sayang sebatas keikutsertaan mereka dalam beberapa even di kemerdekaan Indonesia, ga banyak lagi pengaruh mereka dalam keseharian kita sekarang, saat pendidikan terbuka untuk semua orang (jaman dulu itu yang boleh sekolah cuma yang bangsawan).
Yang paling deket dengan para gentlemen ini, yang terpikir ama gue, di Indonesia mungkin dengan yang disebut dengan PRIYAYI walau ada perbedaan dasar. Para priyayi walau banyak yang memiliki darah bangsawan bukanlah mereka yang tidak bekerja, tapi justru yang bekerja kantoran (seperti Sastrodarsono yang diceritakan dengan indah oleh Umar Kayam di novelnya “Para Priyayi”) mereka yang bekerja sebagai juru tulis, pejabat gupermen atau bahkan guru. “Kelas” priyayi dibuat untuk membedakan mereka yang bekerja bertani, berdagang dan yang bekerja menerima gaji.
Kemiripannya dengan gentlemen adalah justru dari sisi tingkah laku, well-manner dan lifestyle tadi. Sebutan priyayi juga melambangkan mereka yang dianggap lebih berpendidikan dan menghargai hal-hal seperti seperti harga diri dan kehormatan lebih dibandingkan dengan “orang biasa”, walau belum tentu kaya.
Lalu, sebenernya, tingkah laku yang seperti apa yang disebut tingkah laku gentlemen atau mriyayi ini? Apa ada yang disebut gentlemen code atau panduan tingkah laku dan sikap hidup priyayi?
George Washington (iya yang presiden US pertama itu) menuliskan aturan versi dia tentang gentlemen yang mana diantaranya adalah:
- Tunjukkan sikap hormat pada siapapun yang bersama kita.
- Batuk, bersin, menguap tidak di depan umum.
- Tidak tidur saat orang lain bicara, tidak duduk saat orang lain berdiri, tidak bicara saat lebih baik diam dan tidak berjalan saat orang lain berhenti.
- Dan lain-lain, dan lain-lain (ada 110 aturan di halaman diatas waks)…
Tulisan pendek Charles Dickens dengan judul Sketches of Young Gentlemen juga sering dikutip bilamana seseorang ingin menggambarkan yang namanya gentlemen ini.
Anak muda jaman sekarang (hehe) mungkin menyebut sikap ini “jentel” (mirip ga sih sama ksatria?) yang diasosikan dengan cara kamu memperlakukan cewek.
Jalan disisi terdekat dengan jalan, bukain pintu, narikin kursi, ngasih bunga dll. Dalam list ini juga termasuk didalamnya seperti memberikan kursi buat wanita dan yang lebih tua, ngasih jalan duluan kalo nyupir dan ngga nyelip di depan sebuah antrian (ada lagi?).
Tapi yang lebih penting, kayaknya, selain manner, sopan santun dan tingkah laku adalah justru kualitas gentlemen itu sendiri. Kualitas yang mendekatkan dan dimiliki oleh para gentlemen jaman Victoria dulu dan kualitas para priyayi jaman kolonial tersebut.
Kualitas yang bertumpu pada prinsip-prinsip kehormatan, harga diri, kesetiaan dan omongan yang bisa dipercaya.
Mereka yang tindakannya berdasarkan dari niat baik dan dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. Mereka dengan kemampuan kendali diri yang sama di setiap situasi, yang tidak menjatuhkan mereka yang kurang, yang juga tidak tinggi hati, tidak memamerkan kekayaan ataupun kesuksesan dan tidak takut pada kekuasaan.
Yang bicara dengan terus terang tapi dengan ketulusan dan simpati. Yang selalu memikirkan hak dan perasaan orang lain. Yang tidak pamer ketika menang dan tidak berteriak “curang!” dan ngambeg ketika kalah (hehe). Mereka yang tidak rese’ (kata anak sekarang).
Yang merasa senang berada bersama siapa saja dan mereka yang bersamanya kehormatan adalah suci dan kebenaran tidak perlu merasa khawatir.
I’ll say, bring back the gentlemen! :)
Percakapan ini muncul pas makan siang hari ini sama temen kantor gue yang orang India. Dia baru bilang ama gue kalo istrinya (orang thai) hamil, sudah satu bulan dan cuma 3 orang di kantor yang tau sampai sekarang.
“This is great!” I said. :D
Dia dan gue, baru gue sadari ternyata cukup deket. Ini di dorong karena sama-sama orang asing yang kerja di Bangkok, sama-sama seumuran, udah nikah, sama-sama suka film, buku, koleksi DVD dan juga temen yang minimal bisa saling ngobrol pake bahasa inggris (orang thai parah bhs inggrisnya), kita jadinya selalu makan siang bareng dan kadang pulang bareng, dan hari ini dia bilang ama gue kalo dia bakal jadi seorang ayah. Wow, you will be a grown up, kata gue ama dia. Dan kita senyum-senyum berdua jadinya.
Terus dia cerita tentang bahwa mereka berdua didorong-dorong terus buat punya anak, adik istrinya dah punya anak, dan adiknya dia juga baru melahirkan awal tahun ini. Istrinya lebih tua daripada dia, jadi it seems like a good idea kalo mereka punya anak juga, dia bilang dia ga tau apa dia siap atau ga ama tanggung jawab ini dan kita masuk ke pembicaraan tentang kesiapan.
Lucu juga, gua bilang, bahwa setelah dipikir-pikir kita tidak akan pernah siap untuk ngerjain apapun.
Most of the time, ketika seseorang beralasan “belum siap” maka apa yang dimaksudkan oleh dia adalah bahwa dia “belum mau”.
Gue belum siap tunangan, belum siap hidup sendiri, belum siap nikah, belum siap punya anak, belum siap naik haji.
Kita selalu belum siap, dan menarik menyadari kenyataan bahwa ketika kita bicara tentang sebuah tanggung jawab, sebuah komitmen, kita tahu bahwa kita tidak akan pernah siap.
You will never 100% ready to do anything, you just do it.
Ini tentu mirip dengan cara khas berpikir kita (…ah gimana nanti aja) dan diluar cara berpikir logis rata-rata orang barat yang ingin segala sesuatu jelas dulu sebelum berkomitmen.
Lucunya (banyak hal lucu di posting kali ini), kalo kamu perhatiin buku, film dan lain-lain (yang notabene dari barat) tentang masalah “kesiapan” ini, maka kamu akan sadari bahwa buat mereka juga, predikat siap adalah sesuatu yang tidak dicapai tapi ditemukan.
Seorang Hugh Grant di sebuah film komedi romantis tidak secara sistematis merencanakan diri agar siap, kesiapan itu datang seketika, seperti sebuah kesadaran baru, siap karenanya seperti sesuatu yg hilang dan kemudian ditemukan…
IS THIS A GUY THING? :D
Apakah ada bagian otak di tubuh cowok-cowok yang berfungsi untuk mengingatkan bahwa KITA selalu tidak siap untuk menerima komitmen. Ketika ada komitmen datang maka reaksi kita pertama kali adalah “Woow! Bentar dulu, gue belum siap…”
Kalo itu benar, maka apa yang terjadi pada cowok-cowok yang menerima komitmen, apa bagian otak anti siap ditubuhnya tidak berfungsi atau sudah secara medis dibuang? Atau mereka hanya tidak menggunakan bagian otak tersebut.
Mungkin perlu ada sebuah riset untuk menyelesaikan masalah ini, mungkin faktor dan tingkat ketidaksiapan setiap orang berbeda dan karena perlu ada tabel konversi untuk menyamaratakan tingkat kesiapan tersebut. Mungkin perlu ada panduan bagaimana supaya kita tidak takut untuk bisa siap.
Wait, wait.. apakah ketidaksiapan ini ada hubungannya dengan rasa takut? Apakah belum siap = belum mau = takut?
Kayaknya perlu kita diskusikan sama-sama permsalahan ini, kita cari titik terangnya sampai ketemu. Kita gali sumber permasalahan ini, kita harus temukan jawaban dari misteri sikap belum siap ini.
Ok deh, bagaimana kalo kita sama-sama janji cari penyelesaian masalah sampai keakar-akarnya. Gimana setuju?
Wooow wooow siapa yang setuju? Bentar dulu.. gue belum siap…












